Manasik Kesehatan Haji 2026 Dimulai Januari: Dokter Pantau Jemaah 3 Bulan Nonstop
10 December 2025

-
Artikel terbaru
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan manasik kesehatan untuk calon jemaah haji 1447 H/2026 M akan dimulai pada Januari 2026. Program ini digelar setelah proses seleksi petugas haji rampung seluruhnya.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan durasi manasik tahun ini lebih singkat dari biasanya. Namun, peran tenaga kesehatan justru semakin besar.
“Jadi kita kan manasik kesehatan relatif tahun ini lebih singkat ya. Paling nanti mulai Januari,” kata Dahnil saat menghadiri kegiatan Perdokhi di Sentul, Bogor, Sabtu (22/11/2025).
Menurutnya, daftar jemaah yang berhak berangkat sudah keluar pada November–Desember sehingga dokter bisa langsung mulai melakukan pembinaan.
“Januari itu artinya dokter akan banyak terlibat untuk mengawasi kesehatan jemaah,” ujarnya.
“Kan bulan November, Desember ini pasti porsi siapa yang akan berangkat sudah diumumkan. Artinya di situ ada keterlibatan quote unquote manasik kesehatan,” tambahnya.
Pengawasan 3 Bulan
Dahnil menjelaskan, para dokter dari Pusat Kesehatan Haji akan melakukan pemantauan selama tiga bulan sebelum pemberangkatan. Fokusnya mulai dari pembiasaan jalan kaki, pola makan sehat, hingga kebiasaan fisik lain yang akan memengaruhi stamina jemaah di Armuzna.
“Para dokter nanti akan lakukan pengawasan terus-menerus selama 3 bulan untuk mereka. Supaya misalnya tertib jalan kaki, kemudian menjaga makanan, dan sebagainya,” jelasnya.
Ia menyamakan proses ini layaknya melatih atlet menghadapi turnamen besar. “Karena ini seperti mempersiapkan atlet yang akan bertanding nanti di puncak haji,” tukas Dahnil.
Angka Kematian Tinggi Bukan Hanya Karena Usia
Evaluasi Kemenhaj menunjukkan masalah kesehatan jemaah harus ditangani dari hulu. Tahun 2025, jemaah Indonesia menyumbang 50 persen dari total jamaah wafat di Tanah Suci.
“Tingkat kematian jemaah haji kita tinggi sekali, persentasenya itu pun tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Dahnil.
Ia menegaskan, kematian tidak didominasi jemaah lansia saja, tetapi banyak terjadi pada jemaah yang memiliki komorbid.
“Banyak orang yang sejatinya sakit dan tidak pantas berangkat, itu bisa berangkat karena dokumennya bilang dia sehat,” ungkapnya.
Dahnil menilai peningkatan kualitas pemeriksaan kesehatan awal adalah kunci menurunkan risiko tersebut.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan manasik kesehatan untuk calon jemaah haji 1447 H/2026 M akan dimulai pada Januari 2026. Program ini digelar setelah proses seleksi petugas haji rampung seluruhnya.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan durasi manasik tahun ini lebih singkat dari biasanya. Namun, peran tenaga kesehatan justru semakin besar.
“Jadi kita kan manasik kesehatan relatif tahun ini lebih singkat ya. Paling nanti mulai Januari,” kata Dahnil saat menghadiri kegiatan Perdokhi di Sentul, Bogor, Sabtu (22/11/2025).
Menurutnya, daftar jemaah yang berhak berangkat sudah keluar pada November–Desember sehingga dokter bisa langsung mulai melakukan pembinaan.
“Januari itu artinya dokter akan banyak terlibat untuk mengawasi kesehatan jemaah,” ujarnya.
“Kan bulan November, Desember ini pasti porsi siapa yang akan berangkat sudah diumumkan. Artinya di situ ada keterlibatan quote unquote manasik kesehatan,” tambahnya.
Pengawasan 3 Bulan
Dahnil menjelaskan, para dokter dari Pusat Kesehatan Haji akan melakukan pemantauan selama tiga bulan sebelum pemberangkatan. Fokusnya mulai dari pembiasaan jalan kaki, pola makan sehat, hingga kebiasaan fisik lain yang akan memengaruhi stamina jemaah di Armuzna.
“Para dokter nanti akan lakukan pengawasan terus-menerus selama 3 bulan untuk mereka. Supaya misalnya tertib jalan kaki, kemudian menjaga makanan, dan sebagainya,” jelasnya.
Ia menyamakan proses ini layaknya melatih atlet menghadapi turnamen besar. “Karena ini seperti mempersiapkan atlet yang akan bertanding nanti di puncak haji,” tukas Dahnil.
Angka Kematian Tinggi Bukan Hanya Karena Usia
Evaluasi Kemenhaj menunjukkan masalah kesehatan jemaah harus ditangani dari hulu. Tahun 2025, jemaah Indonesia menyumbang 50 persen dari total jamaah wafat di Tanah Suci.
“Tingkat kematian jemaah haji kita tinggi sekali, persentasenya itu pun tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Dahnil.
Ia menegaskan, kematian tidak didominasi jemaah lansia saja, tetapi banyak terjadi pada jemaah yang memiliki komorbid.
“Banyak orang yang sejatinya sakit dan tidak pantas berangkat, itu bisa berangkat karena dokumennya bilang dia sehat,” ungkapnya.
Dahnil menilai peningkatan kualitas pemeriksaan kesehatan awal adalah kunci menurunkan risiko tersebut.
Saatnya Menuju Baitullah
Paket Umrah & Haji terlengkap dengan harga terjangkau. Daftar sekarang dan dapatkan kemudahan
pembayaran serta gratis perlengkapan umrah.